Jumat, 24 Mei 2013

Udah Putusin Aja !





Assalamu’alaikum sobat. Ada yang baru nih! Mau tau mau tau?? Yukk simakkk... ^_^
Tau kan buku terbarunya Ustad Felix Xiau?? Tau dong ya.. Yup!! Judulnya “Udah, putusin aja!” kira-kira apa ya maksudnya?? Aduh, yang pacaran galau nih. Oh.. tidak bisa! Sobat-sobat ana tidak akan galau deh kalau udah baca buku ini. sebagai gambaran dari isi buku tersebut, ana kasih deh kisi-kisi dari isi buku tersebut. ya,, iseng-iseng kemarin ana seliweran di dunia maya, trus nemu rekaman radio bedah buku “Udah, putusin aja!” Ya enggak ada salahnya kan berbagi informasi. Soalnya, dengar-dengar nih ya, buku ini laris manis bro! Jadi, begini nih, kurang lebih perbincangan ustad Felix dengan seorang penyiar radio.
Diwali dari beberapa email yang masuk kepada Ustas Felix, kurang lebih isinya begini ‘saya kemarin pacaran dengan teman SMP saya. Waktu SMP dia pernah menyatakan cintanya kepada saya. Tetapi waktu itu saya menolaknya. Sekarang kami sama-sama udah kuliah di satu kampus dan kami mulai dekat kembali  dan kami berpacaran.’

Ada juga yang bilang bahwa dia pernah mengatakan bahwa mau berhubungan intim untuk pertama kalinya dengan saya dan dia bilang ‘umurku 20 tahun, tapi aku belum pernah merasakannya. Aku pengen pertama kali ngelakuinnya sama kamu.’
Widiwww.. ngeri ya!!

Jadi, buku ini dikhususkan untuk kaula muda. Pacaran adalah aktivitas maksiat yang memang dari awal udah dilarang oleh agama, Allah, dan rasul. Dalam buku ini disampaikan secara fakta, dalil, dan logika agar umat Islam khususnya remaja perempuan terhindar dari hal-hal yang demikian. Di Indonesia jumlah perempuan mendominasi. Ada yang bilang wanita itu tiang negara. Nah, itu memang benar ya. Kalo seandainya ada orang yang tidak suka pada satu kaum atau dengan agama tertentu, maka yang dirusak  duluan adalah kaum wanitanya.

Sama-sama perlu kita ketahui, pacaran itu bukan mainan, nikah itu tanda serius.
Tapi kan usianya masih muda? Apa yang harus dilakuin oleh anak-anak muda kita ini?
Nah, karena itulah judulnya ‘Udah, putusin aja!’ bukan ‘Udah, nikahin aja.’ Karena setiap kita melihat orang pacaran faktanya adalah berarti  dia belum siap untuk menikah, maka dia pacaran. Orang yang pacaran itu sebenarnya adalah orang yang daftar jurusan. Ketika dia enggak lulus pada jurusan pernikahan, maka dia masuk jurusan pacaran. Jadi, jurusan buangan pernikahan adalah jurusan pacaran. Nah, karena enggak siap itulah kita minta mereka, udah.. putusin aja dulu. Kemudian pantaskan dulu dirinya, pelajari agama, bagaimana kemudian hidup ke depan. Karena kalo itu semua tidak ada, ya percuma.

Di sini disebutkan data KPAI tahun 2008, 62% remaja perempuan SMP di Jakarta sudah tidak perawan lagi. Itu tahun 2008. Apakah yang terjadi tahun lalu? Mungkinkah naik? Rasanya jarang kalau angka statistik turun. Yup! kalau kita lihat dari segi fakta,  mungkin semua orang bilang ‘oh.. gak semua orang pacaran gitu kok.’ Tapi yang jelas adalah fakta statistik kalau kita lihat setiap tahun ada dua momen dimana penjualan kondom meningkat drastis. Yaitu tahun baru dan bulan februari. Tak heran di Amerika diperingati hari The nationl condom week dan di Inggris diperingati hari The nationl impotents day untuk seminggu, sebelum dan setelah tanggal 14 feb. Di Indonesia juga sama. Di daerah Balik Papan, penjualan kondom meningkat 500%. Tahun baru kemarin 70% peningkatan jika dibanding penjualan pada hari-hari biasa. Kelonjakan itu pastilah bukan dipakai oleh orang-orang yang menikah. Nah, prtanyaan berikutnya adalah, siapa yang beli? Siapa yang menggunakan? Dan untuk apa? Maka saya ambil kesimpulan, di luar prostitusi memang pacaran mungkin tidak akan berakhir dengan zina, tapi zina pasti berawal dari pacaran.

Sebagai manusia biasa yang memiliki cinta dan tiada yang salah dengan cinta, jadi apa yang harus kita lakukan degan cinta?

Karena cinta adalah anugerah Allah yang memang diberikan kepada setiap manusia dan memang sesuatu yang memanusiakan manusia. Oleh karena itu, cinta harus diarahkan sesuai degan koridor Islam dan cinta tidak melulu cinta lawan jenis , ada banyak hal yang harus lebih dicintai termasuk ibu kita yang mungkin kita tidak pernah bilang sayang padanya, ayah kita, rasul, Allah, dsb. Dan ini jauh lebih penting daripada nafsu yang ditopengi dengan cinta.

Jadi sebenarnya pacaran itu boleh tidak?

Dalam Islam, pacaran itu boleh kalau sudah menikah. Kalau sebelum nikah rasulullah melarang jelas sekali dalam yang namanya berkholwat ketika ada dua orang yang berkholwat dimana tidak ada mahrom diantara keduanya, maka yang ketiganya pasti syaitan. Bicara tentang cinta, cinta itu datang karena terbiasa dan itulah fitrahnya. Saya lihat data dari BKKBN bahwa tahun 2010 se-Jabodetabek remaja yang hilang keperawanannya mencapai 51 %, Surabaya 54%, Medan 52%, Bandung 47%, dan Yogyakarta 37%. Nah, jika ini bicara tentang cinta, maka cinta tak akan selalu indah, karenanya perlu komitmen nikah. Inikan melalui proses tadi, ketika anak-anak dalam melalui proses, apakah harus dengan proses pacaran itu atau memang yang sudahlah nanti kita nikah aja langsung.

 Banyak yang bertanya, kalau misalnya tidak pacaran, lantas seperti apa proses perkenalan? Apakah harus beli kucing dalam karung? Justru pemahaman seperti ini terbalik. Justru yang pacaran itu yang beli kucing dalam karung. Karena faktanya kalau kita lihat pacaran sudah dilakukan sudah bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun oleh orang-orang Indonesia  tapi ternyata angka perceraian enggak berkurang dan tetap di 30-40%. Amerika 50%. Kemudian angka tertinggi perceraian di dunia itu ada di Rusia, Belarusia, dan Ukraina. Yang nyata-nyata mereka tidak mengerti Islam. Ada yang pacaran tapi tetap juga cerai. Artinya, tidak ada hubungan antara pacaran degan kelanggengan pernikahan. Tidak ada hubungan pacaran dengan perkenalan. Kecuali perkenalan anatomi tubuh.

Jadi di dalam Islam ada sebuah hal yang segitu penting yaitu setiap orang yang sama-sama mencintai sesuatu, pasti akan saling mencintai. Maka dalam Islam ada yang namanya proses ta’aruf. Ta’aruf adalah perkenalan kalau dia memang sudah siap untuk menikah dan orang tuanya memang sudah mengizinkan orang tersebut menikah, maka mereka melakukan ta’aruf. Perkenalan ini dilakukan selayaknya perkenalan yang seharusnya. Ada mahromnya, kemudian dia bisa bertanya apa yang dia ingin ketahui.

Loh, kan masih kecil?

Nah, makanya yang saya maksud putusin ini adalah untuk usia-usia yang tidak sanggup dan tidak mampu untuk menikah. Dalam Islam jelas sekali indikasi mampu, Rasul katakan, ‘barang siapa yang sanggup untuk menikah, maka menikahlah.’ Yang dimaksud dengan sanggup dan mampu adalah apabila walinya merestui dia dan tentunya sudah dalam kondisi baligh. Itu berarti harus ada ilmu agama, ilmu dunia, keteguhan hati, emosi , kematangan, dsb. Jadi, ini yang dimaksud dengan ta’aruf dan pacaran dalam pandangan Islam tidak ada. Karena Islam adalah agama yang preventif. Allah melarang untuk mendekati zina apalagi melakukannya. Maka Islam menutup semua jalan untuk perzinaan.

Untuk seorang wanita, tentunya dia mendambakan laki-laki yang untuk jadi suaminya adalah yang soleh, yang baik, yang bisa mengayomi dia, dsb. Dan tentunya yang seperti ini tidak datang dari proses yang namanya pacaran. Karena pacaran kan maksiat. Dan laki-laki yang bermaksiat kepada Allah sebelum dia menikah, lebih berpotensi bermaksiat setelah dia menikah. Maka jangan heran ada yang ketika dia sudah menikah tetap mesra-mesraan dengan yang lain. Karena itu sudah ia lakukan ketika pacaran. Bilang sayang padahal belum halal, bilang cinta padahal belum nikah. Nah itu akan dia ulangi pada wanita yang lain.

Nah, bagaimana cara melepaskan diri dari pacaran??

Ketika suka, maka itu terjadi karena kita terbiasa. Ketika kita pacaran kemudian putus, maka ada waktu-waktu galau untuk move on. Nah itu bisa kita lalui kalau kita memang membiasakan diri  tanpa ada rangsangan-rangsangan yang sama. Contoh, ya wajar aja ada orang galau, putus pacaran terus galau. Kenapa? Ditengokin terus facebooknya, dibuka terus twitternya, fotonya masih disimpan, kepo, dsb. Ya wajar kalau dia masih enggak bisa move on. Jadi, hilangkan semua hal-hal yang begitu, dekati Allah. Kemudian coba banyak baca quran, libatkan diri dalam aktivitas dakwah, dsb. Nah itu mempermudah dia untuk lepas dari aktivitas pacaran dan bahaya-bahaya di dalamnya.

Lanjut lagi ya! Belum bosan kan? Seru nih! *iklan

Jadi ada yang katanya pacaran Islami. Pacaran yang dimulai dengan bismillah dan diakhiri dengan hamdalah hehehe. Pacarannya di bawah bedug atau di pelataran mesjid. Jadi enggak ada kayak gitu dalam Islam. Jadi, LDR atau apapun itu dalam pacaran yang dia katakan Islami, ta’aruf, berkholwat, hubungan tanpa status, tetap saja isinya berbuai-buaian tentang cinta (ukhty yang senyumnya meneduhkan hati, udah makan belum? *halah...), tidak mengingat Allah, jadi tetap aktivitasnya aktivitas maksiat. Lah, kalo memang mengingatkan, kan enggak harus wanita. Lalu bagaimana membedakan cinta karena Allah dengan cinta karena nafsu? Gampang banget. Kalau cinta karena Allah, ya berarti dia memang sayang karena Allah. Benci pun karena Allah. Artinya, dia bertemu, berpisah karena Allah. Jika siap dia nikahi, jika dia tidak siap ya sudahi. Tapi kalau cinta karena nafsu itu pasti bakal bikin korban.  Nah kalau cinta karena Allah itu pengorbanan, kalau cinta karena nafsu itu bakal cari korban. Kalau dia memang sayang karena Allah, berarti dia enggak akan membiarkn orang yang disayanginya dijilat api neraka. Nah itu seharusnya kalau sayang. Sayangnya, orang enggak akan tau cinta karena Allah kalau dia belum menikah.

Komunikasi boleh. Tapi harus tetap memperhatikan koridor Islamnya. Lebih baik menjaga diri karena kemuliaan atau kehormatan seorang wanita bukan karena dia lebih sering akrab dengan seorang laki-laki, tapi kedekatannya dengan Allah. Maka kedekatan dia dengan laki-laki ada porsinya.  Justru kemuliaan dan kehormatannya semakin lebih terjaga ketika dia menjaga lisan dan perbuatnnya apalagi dihadapan seorang laki-laki. Seorang laki-laki tidak akan pernah bisa merasakan cinta karena Allah pada seorang wanita sebelum dia merasakan bahwa yang dicintai adalah Allah dan rasul melebihi daripada segala-galanya. Pernikahan adalah jalan untuk menyalurkan cinta dengan penuh tanggung jawab dan komitmen.

Berikut cara meyakinkan hati agar tidak pacaran:
1.      Secara historis: dengan cerita-cerita pacaran itu seperti apa dengan segala ketidakenakan yang dihadapi.
2.      Secara logis: secara logika pacaran itu memang bukan persiapan dan memang tidak ada hubungan dengan masa depan. Bahkan bisa merusak masa depan kaerna seorang laki-laki itu dilihat dari masa depan, tapi seorang wanita itu dilihat dari masa lalu. Artinya pacaran itu benar-benar merusak masa depan seorang wanita karna akan menyebabkan noktah dalam record hidup dia.

3.      Secara dalil/normatif Islam melarang. Dan ketika Allah memang memerintahkan kita untuk tidak melakukan maksiat-maksiat seperti pacaran, dan rasul pun memrintahkan, pasti ada kebaikan disitu.

Jadi, yang dapat kita ambil dari buku ini secara ringkas adalah jauhi yang namanya maksiat, kholwat termasuk maksiat kepada Allah dan ini tidak diperbolehkan di dalam Islam dan karena itulah kita harus menjadi orang yang berhati-hati. Seorang perempuan harus paham bahwa nilai dia ditentukan oleh masa lalu yang sudah dia buat dan seorang laki-laki yang terhormat maka dia tidak akan menyiksa dan memperhatikan wanita dengan cinta yang belum halal. Harusnya dia ambil dengan nikah atau dia tinggalkan dengan kesatria.
Mantap ya, isi bukunya. Itu baru kisi-kisi loh. Kalau mau tau isi yang lebih dahsyat ya beli dong bukunya. Buku ini harus jadi daftar bacaan wajib loh. Apalagi yang masih pacaran. Aduh, udah deh PUTUSIN AJA!
Wassalam.


0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Post

Google+ Followers